Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 26 Februari 2016

Rock Climbing

Panjat Tebing (Rock Climbing)

Sumber: http://baleadventure.blogspot.co.id/2012/09/mengenal-rock-climbing-panjat-tebing.html
DEFINISI
Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olah raga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45o dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu.


Pada dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan
Pada awalnya panjat tebing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat tebing yang diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang perkembangan olah raga ini memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan unsur olah raga murni (sport)


SISTEM PEMANJATAN

System pemanjatan dibagi menjadi dua :

* Himalayan system

Pemanjatan system Himalayan ini adalah pemanjatan yang dilakukan dengan cara terhubungnya antara titik start (ground) dengan pitch / terminal terakhir pemanjatan, hubungan antara titik start dengan pitch adalah menggunakan tali transport, dimana tali tersebut adalah berfungsi supaya hubungan antara team pemanjat dengan team yang dibawah dapat terus berlangsung tali transport ini berfungsi juga sebagai lintasan pergantian team pemanjat juga sebagai jlur suplai peralatan ataupun yang lainnya

* Alpen system

Lain halnya dengan system diatas, jadi antara titik start dengan pitch terakhir sama sekali tidak terhubung dengan tali transpot, sehingga jalur pemanjatan adalah sebagai jalur perjalanan yang tidak akan dilewati kembali oleh team yang dibawah. Maka pemanjatan dengan system ini benar-benar harus matang perencanaanya karena semua kebutuhan yang mendukung dalam pemanjatan tersubut harus dibawa pada saat itu juga.

1. LEADER
a. Langkah - langkah awal untuk peletakan peralatan.
- Piton dijadikan satu dalam sebuah carabiner non screw sesuai dengan jenis piton dan diletakkan di samping harnest.
- Untuk peralatan lainnya dijadikan satu (friend, chock stopper,cholk hexentrik) dalam sebuah carabiner non screw sesuai dengan jenisnya dan diletakkan disamping harnest.
- Sling diselempangkan di badan.
- Hammer, untuk peletakan hammer pada harnest, bagian pangkal hammer menggunakan carabiner screw dan di ikatkan sling atau tali prussik dengan panjang kurang lebih 1 M pada harnest, sedangkan pada bagian atas hammer diberi carabiner non screw untuk menggantungkan hammer di samping harnest.
- Stirup, bagian atas stirup memakai carabiner non screw dan di letakkan pada samping harnest.
- Cowstail sebanyak 2 buah dipasangkan pada harnest bagian depan dan pada kedua ujung cowstail diberi carabiner non screw.
b. Setelah selesai memasang peralatan.
Pemanjat pertama menggunakan ujung tali utama yang di ikatkan pada harnest bagian depan sebagai tali pengaman utama dan menggunakan simpul delapan tanpa menggunakan carabiner, serta memasang tali transfer pada bagian belakang harnest dengan menggunakan simpul delapan. pemanjat pertama memanjat dan memasang pengaman dan menggunakan salah satu teknik pemakaian tali di atas teknik twin, double atau single-rope tehnique, lalu pemanjatan siap dilaksanakan.

2. BELAYER

Belayer pada double, twin-rope tehnique dan single rope tehnique
Belayer memakai harnest lalu memasang carabiner screw dan figure of eight, kemudian ke dua tali di pasangkan ke figur of eight pada bagian depan harnest. Ada hal yang harus di ingat sebelum ke dua tali di pasangkan pada figur of eight yaitu kedua tali tersebut di pisahkan dengan cara mengurai dan memisahkan kedua tali secara terpisah agar tali tidak sampai kusut, baik antar tali atau pada bagian tali itu sendiri. (Teknik ini digunakan untuk double dan twin-rope tehnique) untuk single rope tehnique talinya di uraikan Selanjutnya harnest bagian belakang di ikatkan dengan cara mengikatkan ujung webbing ke bagian belakang harnest dan bagian pangkal webbing di pasang ke pengaman, fungsi pentingnya sebagai pengaman belay bila si pemanjat jatuh maka belayer tertahan oleh pengaman yang dipasang pada bagian belakang tadi.
Setelah pemasangan diatas selesai pemanjatan dapat dimulai, Leader mulai langsung memasang pengaman pertama, pengaman kedua dan pengaman seterusnya dengan posisi tali tidak boleh zig zag karena akan menyebabakan tali lebih panjang terulur dan juga beban hentakan pengaman tersebut akan lebih besar diterima, untuk menghindari hal tersebut maka panjang sling dari pengaman tersebut di sesuaikan agar posisi talinya tetap lurus .setelah sampai pada sebuah pitch atau ketinggian yang di inginkan, Hanging belay, untuk lokasi, belayer harus mempunyai syarat :
Tempat pemasangan pengaman yang baik dan mencari teras untuk belayer itu sendiri agar dapat leluasa dan tidak bosan
1. Belayer juga mencoba mencari tempat di mana belayer sendiri dapat melihat si pemanjat dan si pemanjat dapat melihat si belayer.
2. Belayer sendiri menjaga mata dari jatuhnya batuan dari atas dan bila batu yang jatuhnya sangat berbahaya kamu harus menggunakan helm atau meletakkan tas di atas kamu.
3. Antara belayer dan si pemanjat harus saling berkomunikasi untuk mengetahui posisi dan keadaan dan juga menjaga kalau lagi ada kendala di antara keduanya.
Setelah melakukan itu semua, leader kemudian memasang minimal dua pengaman yang benar-benar dapat menahan beban barang dan semua pemanjat, untuk pengaman pertama ini menggunakan carabiner screw dan membuat simpul pangkal pada tali utama lalu memasang pengaman kedua carabiner yang di gunakan carabiner screw dan membuat simpul delapan pada sisa tali utama yang panjang dan satu pengaman lagi menggunakan carabiner bebas untuk alur tali agar posisi yang membelay tetap ke atas, setelah itu memasang sisa tali utama yang panjang pada figur of eight kemudian siap membelay pemanjat yang tadinya menjadi belayer dimana sebelum melakukan pemanjatan memasang carabiner screw di bagian depan harnest lalu membuat simpul delapan ganda untuk dipasang pada carabiner tersebut dan pemanjatan siap dilakukan dengan memberi tanda kepada belayer dan leader pun siap membelay pemanjat ke dua, setelah itu orang kedua dengan di belay oleh leader tadi memanjat dengan melewati pengaman yang di pasang leader.
Setelah selesai membelay, pemanjat kedua melakukan pemanjatan dengan melewati pengaman yang di pasang dengan dibelay oleh leader, setelah tiba pada posisi belayer tadi berada maka, pemanjat tadi langsung membuat simpul sesuai dengan simpul pada pengaman pertama, pengaman kedua yang di pasang dan untuk peletakan simpul dan carabiner yang di gunakan pada posisi sama dengan belayer.

3. RECORDING

Bekerja sebagai pencatat segala kegiatan yang di lakukan oleh team dan catatan itu di sertai waktunya, juga tidak lupa mencatat apa saja alat yang sudah di gunakan oleh leader dan juga bertugas mencatat semua alat yang sudah di cleaning. Agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan

4. CLEANING

Alat yang di pasang pada harnest :
a. Hammer : untuk melepaskan pengaman piton.
Hammer, untuk peletakan hammer pada harnest, bagian pangkal hammer menggunakan carabiner screw dan diikatkan sling atau tali prussik dengan panjang kurang lebih 1 M pada harnest, sedangkan pada bagian atas hammer diberi carabiner non screw untuk menggantungkan hammer di samping harnest.
b. Chocker : untuk melepaskan pengaman sisip/chock
Chocker, untuk peletakkan pada harnest sama dengan cara peletakan hammer pada harnest.
Setelah semua selesai, cleaner melakukan pemanjatan sambil mengambil pengaman yang dipasang oleh leader tadi sampai cleaner berada pada posisi belayer kemudian memasang simpul ,carabiner dan peletakannya sama dengan posisi belayer tadi.
c. Jumar : alat untuk melakukan ascending.
Adalah alat bantu untuk untuk naik melalui tali kernamantel.

>>Dilihat dari bentuk penggunaan peralatan panjat tebing terbagi menjadi 2 kelompok besar :


# Artificial climbing :
Merupakan pemanjatan yang mana didalam pergerakannya sepenuhnya didukung oleh alat dan pemanjat tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan alat tersebut. Peralatan selain sebagai pengaman juga sebagai tumpuan untuk menambah ketinggian dalam melakukan pemanjatan tersebut. Perlu diingat bahwasannya untuk dapat bergerak cepat dan aman dalam melakukan pemanjatan bukan disebabkan karena adanya peralatan yang super modern melainkan lebih diutamakan pada penggunaan teknik yang baik.
# Free climbing :
Adalah pemenajatan yang mengunakan alat hanya semata-mata untuk menambah ketinggian dan alat berfungsi sebagai pengaman saja tetapi tidak mempengaruhi gerak dari pemanjat. Walaupun dalam pemanjatan tipe ini pemanjat diamankan oleh seorang belayer namun pengaman yang baik adalah diri sendiri.
Sedangkan untuk pengembangan dari jenis pemanjatan free climbing itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu :
- Top rope : pemanjatan dimana tali pemanjatan sudah terpasang sebelumnya
- Solo : pemanjatan yang dilakukan seorang diri dengan merangkap fungsi sebagai Leade, Cleaner dan Belayer.

Sedangkan solo sendiri juga dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :
a. Solo artificial climbing
b. Solo free climbing


>>Berdasarkan sistem belay / fall protection, panjat tebing terbagi dalam beberapa ketegori :


• Gym Climbing


Pada tipe ini, belayer ada di bawah ( ground ) dengan tali dibelokan oleh sistem anchor (pullay atau carabiner) diatas climber. Jika climber jatuh maka berat climber tadi akan dibelokan oleh sistem anchor yang lalu ditahan oleh belayer.


• Top Roping


Pada tipe ini, belayer ada di atas ( top ) yang melakukan belay terhadap tali yang menuju climber ke bawah. Untuk mengurangi beban yang ditahan belayer ketika climber jatuh, biasanya dibuat sistem pengaman pembantu (pembelokan atau pengalihan beban).


• Lead Climbing


Pada tipe ini, tali tidak menjulur ke jangkar pengaman di puncak tebing melainkan dari belayer langsung ke climber . Pada saat climber mulai memanjat, belayer mengulurkan tali, kemudian pada interval ketinggian tertentu (misalnya setiap 3 meter) climber terus memasang alat pengaman, jika dia jatuh maka belayer akan mengunci tali pengaman dan climber akan menggantung pada tali yang mengulur keatas ke alat pengaman terakhir yang dia pasang. Terbagi 2 :


• Sport Climbing


Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Pada Sport climbing rute yang dipanjat umumya telah bolted (pada interval ketinggian tertentu ada hanger pada dinding tebing).


• Traditional / Trad / Adventure Climbing


Adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor petualangan. Pada Trad Climbing , dinding tebing bersih dari bolts dan hangers, tidak ada pengaman buatan yang dipasang pada dinding. Biasanya dilakukan oleh dua orang. Climber harus membawa alat pengaman sendiri dan memasangnya pada saat memanjat. Ketika tali sudah hampir habis Leader membuat stasiun belay untuk membelay Climber kedua. Climber yang sebelumnya membelay pemanjat pertama mulai memanjat tebing dan membersihkan (mengambil kembali) alat pengaman yang dipasang di dinding tebing oleh pemanjat pertama.



TEKNIK DASAR PANJAT TEBING

Seorang pemanjat harus bisa memahami tebing yang akan dipanjat, bagaimana kontur tebing tersebut, apa saja peralatan yang nantinya akan dipergunakan, dan kalau bisa tahu secara detail bagaimana bentuk pegangan dan celah-celah yang ada pada tebing tersebut yang paling utama pemanjat harus bisa menentukan jalur pemanjatan, cara pemasangan dan penggunaan peralatan yang benar, hal itu akan menjadi safety standart prosedur dalam pemanjatan sehingga menjadi support tambahan bagi kesuksesan dalam melakukan pemanjatan.
Teknik pemanjatan dikelompokkan sesuai bagian dengan tebing yang dimanfaatkan untuk memperoleh gaya tumpuan dan pegangan, yaitu :
a. Face Climbing

Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan

b. Friction / Slab Climbing

Teknik ini hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu

c. Fissure Climbing

Teknik ini memanfaatkan celah yang digunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak

>>Dengan cara demikian dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut ;

a. Jamming
Teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu lebar. Jari-jari tangan, kaki atau tangan dapat dimasukkan / diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak
b. Chimneying
Teknik memanjat celah vertical yang cukup besar. Badan masuk diantara celah dan punggung menempel disalah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke sisi tebing belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula dan membantu mendorong serta membantu menahan berat badan.
c. Bridging
Teknik memanjat pada celah vertikal yang lebih besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang kaki sebagai tumpuan dibantu juga tangan sebagai penjaga keseimbangan.
d. Lay back
Teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menempatkan kedua kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik silih berganti.
e. Hand traverse
Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertukal sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata.

f. Mantelself

Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi namun cukup besar untuk diandalkan untuk tempat brdiri selanjutnya. Kedua tangan dgunakan untuk menarik berat badan dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan untuk mengngkat berat badan yang dibantu dengan dorongan kaki.
Sebagaimana panjat tebing ialah memanfaatkan cacat batuan untuk menambah ketinggian sehingga seorang pemanjat dituntut berani, teliti dan terampil juga dalam kemampuan berfikir yang tepat dalam bertindak dengan keadaan yang terbatas untuk membuat keputusan menyiasati dan memecahkan permasalahan yang dihadapi secara tepat, cepat dan aman.

PROSEDUR PEMANJATAN
Tahapan-tahapan dalam pemanjatan hendaknya dimulai dari langkah-langkh sebagai berikut :
a. mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dicapai.
b. Menyiapkan peralatan yang akan dibutuhkan
c. Untuk Leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa agar mudah untuk diambil / memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas dari Leader sendiri adalah membuat lintasan yang akan dilaluinya dan pemanjat berikutnya.
d. Untuk Belayer, memasang ancor dan merapikan alat-alat. Tugasnya adalah membantu Leader baik dengan aba-aba maupun dengan tali yang dipakai Leader, Belayer juga bertugas mengamankan Belayer dari resiko jatuh atau yang lainnya, dengan langkah awal yaitu meneliti penganman yang dipakai Leader.
e. Bila belayer dan Leader telah siap melakukan pemanjatan, segera memberi aba-aba pemanjatan
f. Bila Leader sampai ketinggian 1 pitch (tali habis) ian harus memasang ancor.
g. Leader yang sudah memasang ancor diatas, selanjutnya berfungsi sebagai Belayer untuk mengamankan pemenjat berikutnya.

PERALATAN PANJAT TEBING
Adapun jenis-jenis peralatan yang biasa digunakan untuk panjat tebing adalah :
1) Tali Karmantel

Tali dibagi 2 macam Tali serat alam (tali dadung) dan Tali serat sintetis.
Tali serat sintetis menjadi dibagi 2 yaitu
a. Tali Hawserlaid (terbuat dari nilon)
b. Tali Kern mantel, tali ini dibagi 2 bagian yaitu bagian mantel biasanya bagian ini terbuat dari kain khusus dan bagian inti yang umumnya bagian ini terbuat dari serabut-serabut nilon.
Tali kern mantel ada 3 jenis yaitu:
a. Dinamis, tali ini lentur dengan daya regang sekitar 30 % biasa digunakan untuk climbimg
b. Statis, tali ini kurang lentur dan daya regang sekitar 15% biasa digunakan untuk rappelling.
c. Semi, daya regang antara dinamis dan statis dapat digunakan untuk climbing maupun rappelling.

2) Carabiner

Carabiner adalah pengaman pemanjat berupa cincin kail yang meyambungkan raner dengan badan climber yang dipasang pada harness.

Bahan-bahan carabiner:


a. Besi Baja

b. Campuran alumunium
Jenis pinti carabiner:

a.Memakai kunci (screw gate,), carabiner jenis ini lebih aman tapi sulit untuk dipasang atau dilepas

b.Tanpa kunci, carabiner ini lebih mudah untuk dipasang dan dilepas tapi keamanannya tidak seperti carabiner screw gate.

3) Harnes
Yaitu pengaman yang dipakai oleh climber. Jenisnya yaitu:
-sit harness
-full boby (body harness)

4) SlinkSlink
yaitu tali penggabung carabiner
Slink ada 2 macam yaitu:
a slink pita dapat digunakan untuk menyambung carabiner
b.slink prusik

5) Raner

Raner digunakan oleh pendaki untuk menghubungkan tali untuk jangkar baut, atau untuk perlindungan tradisional lainnya, yang memungkinkan tali bergerak melalui sistem penahan dengan gesekan minimal. QuickDraw terdiri dari dua non-penguncian carabiner terhubung bersama-sama oleh loop, pendek sebelum dijahit anyaman. Atau, dan cukup teratur, anyaman pra-dijahit digantikan oleh sling dari anyaman di atas Dyneema / nilon. Hal ini biasanya dari sebuah loop cm 60 dan dapat meningkat tiga kali lipat antara carabiner untuk membentuk loop cm 20. Kemudian ketika panjang lebih lanjut diperlukan sling dapat dikembalikan kembali ke dalam lingkaran 60 cm menawarkan fleksibilitas lebih dari loop sebelum dijahit. Carabiner digunakan untuk kliping ke dalam perlindungan umumnya memiliki gerbang lurus, mengurangi kemungkinan carabiner sengaja unclipping dari perlindungan. Para carabiner ke tali yang terpotong sering memiliki gerbang membungkuk, sehingga kliping tali ke carabiner ini dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

6)Sepatu Panjat

Sepatu panjat biasanya terbuat dari karet mentah, bagian depan dari sepatu panjat ini lebih keras agar kaki climber tidak sakit.

7) Webing

Webing biasanya digunakan untuk pengaman badan climber pengganti harness yang umumnya terbuat dari nilon.
Kapasitas menahannya sekitar 4000 pon dan kekuatan menahannya tergantung dari simpulnya.

8). Piton

Piton biasanya digunakan pada saat memanjat tebing alam fungsinya sebagai pengaman pemanjatan pengganti raner yang digunakan pada bongkahan-bongkahan batu. Ada dua tipe yaitu piton bilah /pasak , piton siku. Bahannya dari baja kromoli

9) Chook

Cok bermacam-macam bentuknya, diantaranya bentuk persegi empat (Interlaph) dan persegi enam (Exentric). Bentuk segi empat panjangnya dari ½ cm-1 ½ cm dipasang pada bongkahan-bongkahan tebing, segienam ukuran panjangnya 2cm-5cm. Tali cok terbuat dari baja. Keuntungan menggunakan cok sebagai raner pada bongkahan-bongkahan batu ditebing adalah dapat dilepas kembali dengan menggunakan alat pembukanya.

10) Figure of eight Digunakan pada biley/ rappelin

Ini adalah aluminium (atau kadang-kadang baja) "8" perangkat berbentuk, tapi datang dalam beberapa varietas. Keuntungan utama adalah pembuangan panas yang efisien. Sebuah persegi delapan, digunakan dalam aplikasi penyelamatan, lebih baik untuk rappelling dari 8 tradisional. Sebuah angka delapan descender.

11) Glops

Sarung tangan yang biasa dipakai oleh biley/ rappeling untuk menghindari gesekan langsung ke tali.

12) Helmet

Helmet digunakan sebagai pelindung kepala climber

13)Chalk Bag

Digunakan sebagai pengemas chock(magnesium) yang fungsinya untuk tangan dan kaki agar tidak licin ssat memanjat.

14) Stik Plan

Digunakan sebagai discander untuk menuruni tebing umumnya terbuat dari alumunium

15) Rock Bandering

Pada zaman dahulu sering digunakan untuk mengemas peralatan panjat, tapi sekarang sudah tidak dipakai karena telah ditemukan harness untuk membawa peralatan panjat.

16)Ascander

Ascander digunakan untuk naik diudara(bukan pada tebing) dapat juga digunakan untuk menaiki tebing yang posisinya vertical.

1
7)Discander
Discander digunakan untuk turun dengan menggunakan tali bukan pada tebing.

18) Pulley

Pulley digunakan untuk mengangkat peralatan dari bawah kepuncak tebing, bentuknya seperti katrol kecil dan terbuat dari campuran beton dan alumunium.

19) Hammer

untuk melepaskan pengaman piton. Hammer, untuk peletakan hammer pada harnest, bagian pangkal hammer menggunakan carabiner screw dan diikatkan sling atau tali prussik dengan panjang kurang lebih 1 M pada harnest, sedangkan pada bagian atas hammer diberi carabiner non screw untuk menggantungkan hammer di samping harnest.

20) Eterier (tangga tali)
Eterier atau yang biasa di sebut tangga tali ini biasanya terbuat dari webing yang berfungsi membantu atau memudahkan pemanjat.

21) Sky Hook
Alat yang berfungsi untuk memudahkan pemanjat untuk free dari pemanjatan, dengan cara bertumpu pada tebing.

 

Published: By: Unknown - 04.32

Minggu, 21 Februari 2016

Penyakit Gunung

Mendaki Gunung adalah olaharaga yang menyenangkan dan menyehatkan, namun mendaki gunung juga memungkinkan penyakit penyakit yang memang biasa dialami seorang pendaki, berikut beberapa penyakit tersebut
1. Heat Cramps Heat Cramps ( Kram Karena Panas ) adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas.
Heat cramps disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam ( termasuk natrium, kalium dan magnesium ) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika melakukan aktivitas fisik yang berat. Jika tidak segera diatasi, Heat Cramps bisa menyebabkan Heat Exhaustion.
Gejalanya :
– Kram yang tiba – tiba mulai timbul di tangan, betis atau kaki.
– Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan, terasa sangat nyeri.
Penanganannya :
– Dengan meminum atau memakan minuman / makanan yang mengandung garam.
2. Heat Exhaustion Heat Exhaustion ( Kelelahan Karena Panas ) adalah suatu keadaan yang terjadi akibat terkena /terpapar panas selama berjam – jam, dimana hilangnya banyak cairan karena berkeringat menyebabkan kelelahan, tekanan darah rendah dan kadang pingsan.
Jika tidak segera diatasi, Heat Exhaustion bisa menyebabkan Heat Stroke.
Gejalanya :
– Kelelahan.
– Kecemasan yang meningkat, serta badan basah kuyup karena berkeringat.
– Jika berdiri, penderita akan merasa pusing karena darah terkumpul di dalam pembuluh darah tungkai, yang melebar akibat panas.
– Denyut jantung menjadi lambat dan lemah.
– Kulit menjadi dingin, pucat dan lembab.
– Penderita menjadi linglung / bingung terkadang pingsan.
Penanganannya :
– Istirahat didaerah yang teduh.
– Berikan minuman yang mengandung elektrolit.
3. Heat Stroke
Heat Stroke adalah suatu keadaan yang bisa berakibat fatal, yang terjadi akibat terpapar panas dalam waktu yang sangat lama, dimana penderita tidak dapat mengeluarkan keringat yang cukup untuk menurunkan suhu tubuhnya. Jika tidak segera diobati, Heat Stroke bisa menyebabkan kerusakan yang permanen atau kematian. Suhu 41° Celsius adalah sangat serius, 1 derajat diatasnya seringkali berakibat fatal.
Kerusakan permanen pada organ dalam, misalnya otak bisa segera terjadi dan sering berakhir dengan kematian.
Gejalanya :
– Sakit kepala.
– Perasaan berputar ( vertigo ).
– Kulit teraba panas, tampak merah dan biasanya kering.
– Denyut jantung meningkat dan bisa mencapai 160-180 kali/menit ( normal 60-100 kali / menit ).
– Laju pernafasan juga biasanya meningkat, tetapi tekanan darah jarang berubah.
– Suhu tubuh meningkat sampai 40 – 41° Celsius, menyebabkan perasaan seperti terbakar.
– Penderita bisa mengalami disorientasi ( bingung ) dan bisa mengalami penurunan kesadaran atau kejang.
Penanganannya :
– Pindahkan korban dengan segera ketempat yang sejuk, buka seluruh baju luarnya.
– Bungkus korban dengan selimut yang sejuk dan basah. Usahakan agar selimut tetap basah. Dinginkan korban hingga suhunya mencapai 380 Celcius.
– Saat temperatur mencapai 380 celcius, ganti selimut basah dengan yang kering, lanjutkan perawatan pada korban secara hati – hati.
Dan ada juga penyakit yang lazim di alami dalam kegiatan pendakian gunung. Yakni:
Mountain Sickness ( Penyakit Gunung )
Penyebab utamanya adalah penurunan kadar oksigen didalam darah karena berada diketinggian tertentu. Faktor yang bisa menjadi penyebabnya adalah :
– Kurangnya aklimatisasi ( proses penyesuaian dua kondisi lingkungan yang berbeda ).
– Pergerakan mencapai ketinggian tertentu yang terlalu cepat.
Gejala mountain sickness antara lain :
– Pusing.
– Nafas sesak.
– Tidak nafsu makan.
– Mual terkadang muntah.
– Badan terasa lemas, lesu, malas.
– Jantung berdenyut lebih cepat.
– Penderita sukar tidur.
– Muka pucat, kuku dan bibir terlihat kebiru-biruan.
Penanganannya :
– Beristirahat yang cukup, pada umumnya gejala ini akan hilang dengan sendirinya setelah beristirahat selama 24 s/d 48 jam.
– Jika kondisi tidak membaik turunkan si-penderita dari ketinggian tersebut, sekitar 500 s/d 600 meter.
Hypotermia
Hypotermia adalah suatu keadaan dimana kondisi tubuh tidak dapat menghasilkan panas disertai menurunnya suhu inti tubuh dibawah 35oC. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya :
– Suhu yang ekstrim.
– Pakaian yang tidak cukup sehingga mengenakan pakaian basah.
– Kurangnya makanan yang mengandung kalori tinggi.
Gejala Hypothermia antara lain :
– Menggigil.
– Dingin, pucat, kulit kering.
– Bingung, sikap – sikap tidak masuk akal, lesu, ada kalanya ingin berkelahi.
– Jatuh kesadaran.
– Bernapas pelan dan pendek.
– Denyut nadi yang pelan dan melemah.
Penanganannya :
– Cari perlindungan dari kondisi lingkungan yang dingin, misal membuat Tenda.
– Lepaskan semua pakaian yang basah.
– Selimuti korban dengan selimut atau sleeping bag kering. Atau jika ada safety blangket yang diseliputi dengan aluminium.
– Baringkan korban dan hindarkan kontak langsung dengan tanah.
– Jangan biarkan penderita tertidur yang berakibat hilang kesadarannya.
– Beri penderita makanan / minuman hangat dan mengandung hidrat arang. Jangan berikan minuman ber – alkohol.
– Evakuasi secepatnya ke rumah sakit jika kondisi tidak membaik

Sumber: https://suyatnotijan99.wordpress.com/penyakit-mendaki-gunung/
Published: By: Unknown - 17.34

Jumat, 19 Februari 2016

Tewasnya Dua Legenda 7 Summiter Indonesia (1992)


 Tewasnya Norman Edwin dan Didiek Samsu, Legenda Seven Summiter MAPALA UI
Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Universitas Indonesia ke Puncak Aconcagua (6.960 meter) mengalami musibah pada tahun 1992. 
Berita dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cile menyampaikan hari Minggu (22/3) telah menerima telepon dari Puenta del Inca, kota terakhir di Argentina sebelum Puncak Aconcagua di Pegunungan Andes Amerika Selatan, dua orang anggota tim Mapala UI yaitu Norman Edwin(37) dan Didiek Samsu (28), mengalami musibah.
Hari Senin (23/3) sekitar pukul 19.30 waktu setempat atau pukul 05.30 pagi hari Selasa (24/3), diperoleh berita dari Kedutaan Besar Argentina di Santiago, Cile, tim SAR Argentina sudah melakukan pencekan atas kemungkinan musibah yang menimpa wartawan Kompas – Norman – dan wartawan Majalah Jakarta Jakarta – Didiek Samsu.
Pendakian kedua pendaki Indonesia ini, sebetulnya merupakan pendakian ulangan. Saat pertama, rombongan ekspedisi berjumlah lima anggota (Rudy Nurcahyo, 24, Mohammad Fayez, 23, serta satu anggota putri Dian Hapsari, 24) ini sudah melakukan pendakian, tanggal 12 – 27 Februari 1992.
Namun dua hari menjelang tiba di puncak, Fayez mendapat kecelakaan. “Tangan saya terkilir, lalu Norman dan Rudy menolong saya, namun kami terperangkap badai salju. Baru lima hari kemudian, kami bertiga tiba di Puenta del Inca.
Sedangkan Didiek bersama Dian, sudah tiba lebih dulu ke bawah,” ujar Fayez yang Jumat 13 Maret sudah tiba di Jakarta, bersama Dian.Setelah dirawat di rumah sakit, ternyata Rudy dan Norman harus diamputasi ruas jari mereka, akibat serangan radang beku (frost bite). “Norman dipotong satu ruas jari tengah tangan kirinya, sedang Rudy diamputasi satu ruas jari telunjuk, tengah, jari manis dan kelingking tangan kirinya, serta satu ruas jari manis tangan kirinya,’ tutur Fayez.
Rudy harus dirawat di rumah sakit di Santiago, sedangkan Norman bersama Didiek, pimpinan dan wakil pimpinan tim pendakian – memutuskan untuk mendaki ulang.”Saya bersama Dian pulang lebih dahulu, karena tiket hampir kadaluwarsa,” kata Fayez.
Norman yang baru sembuh, bersama Didiek mendaki lagi.Pendakian kali ini menurut rencana akan mengambil rute timur yang “normal” (berbeda dengan pendakian pertama di jalur barat yang lebih berat).
Menurut rencana kedua wartawan pendaki ini, perjalanan mereka untuk mencapai puncak kelima dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua dunia, hanya berlangsung antara tanggal 11 sampai 21 Maret 1992. “Saya rasa, petugas SAR yang mencatat rencana Norman dan Didiek, setelah lewat tanggal itu segera mencari.
Akhirnya, ya itu, fax dari KBRI menyatakan kalau tim SAR menemukan salah satu dari mereka tanpa rincian musibahnya, serta menyebut kalau seorang lagi, entah siapa, belum ditemukan,” ungkap Fayez.
KBRI Cile di Santiago, dikabarkan kini berupaya mendatangi langsung tempat kejadian peristiwa di Puenta del Inca. Namun menurut kabar terakhir, badai salju melanda pegunungan tengah itu, hingga helikopter carteran pun susah melintasinya.
Sedangkan dari Puenta del Inca yang tak punya hubungan telepon, sumber di sana menyatakan kalau tim SAR terus sedang mencari dan mengidentifikasi musibah sebenarnya.Rektor UI Prof Dr Sujudi yang sudah menerima kabar ini langsung dari Deplu RI, menyatakan pihak UI tetap memonitor perkembangan kabar musibah ini. Serta akan menghubungi Deplu RI dan beberapa instansi terkait untuk bantuan yang dibutuhkan. Juga direncanakan, tim UI akan mengirim tim pendamping dari Jakarta.
Musibah Puncak Aconcagua: Didiek Meninggal, Norman Dicari. KOMPAS – Kamis, 26 Mar 1992
Musibah Puncak Aconcagua yang menerpa dua anggota Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Universitas Indonesia di Argentina, Kedubes RI di Cile mengkonfirmasikan kalau tim SAR Argentina bersama staf KBRI, sudah mengidentifikasi satu jenazah itu Didiek Samsu (30).
Sedangkan pendaki lainnya, Norman Edwin (37), sampai berita ini diturunkan masih belum ditemukan di sekitar tempat kejadian – di ketinggian 6.200 meter – menjelang puncak gunung tertinggi di benua Amerika Selatan.Dubes RI untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, menegaskan kepada Kompas: “Jenazah yang kemarin belum dapat diidentifikasi itu, kini sudah pasti Didiek Samsu Wahyu Triachdi.
Sedangkan Norman mungkin masih hidup, namun tim SAR sampai kini belum dapat menemukannya,” ujar Sukarno melalui telepon. “Situasi medan di ketinggian 6.400 meter yang kini bercuaca buruk, menyulitkan proses evakuasi dengan helikopter.
Tiga staf kami bersama Rudi Nurcahyo – anggota ekspedisi Mapala UI yang baru sembuh setelah diamputasi lima ruas jari tangannya, kini masih memonitor perkembangan SAR itu di Puente del Inca pada ketinggian 2.720 meter.”Dalam teleks terakhir dari KBRI di Cile, dijelaskan Norman sebagai pemimpin tim ekspedisi yang berstatus sebagai wartawan Kompas yang mengambil cuti “di luar tanggungan perusahaan”, diperkirakan mengambil rute menurun melalui Plaza Argentina yang lebih sulit, dibanding rute normal Plaza de Mulas.
Dengan rute ini, Norman seharusnya sudah tiba di Plaza Argentina di Puenta del Inca pada tanggal 25 Maret pukul 18.00 waktu setempat atau 26 Maret pukul 05.00 WIB. Selanjutnya menurut teleks KBRI: Bila ternyata Norman Edwin belum tiba di Punta del Inca, maka tim pencari yg sudah berada di lokasi sekitar Plaza Argentina akan memperpanjang pencariannya dua hari lagi.
Khususnya soal Didiek Samsu, pihak KBRI di lokasi mengkorfimasi kalau kendala cuaca buruk, serta medan sulit untuk evakuasi jenazah dari ketinggian 6.400 turun ke 4.200 meter, memerlukan waktu sekitar 10 hari.
Dari sana, jenazah harus dibawa lagi ke Mendoza di Argentina untuk visum dan perawatan, baru setelah itu diterbangkan helikopter ke Santiago. “Saya memperkirakan sekitar tanggal 5 April, jenazah itu baru dapat kami urus di Santiago, serta mengurus evakuasi secepatnya ke Jakarta,” kata Sukarno melalui telepon perihal jenazah Didiek – pendaki gunung dan arkeolog UI, juga wartawan Majalah Jakarta Jakarta.
Musibah kedua
Norman dan Didiek – pimpinan dan wapim ekspedisi ini – di antara ketiga kawan lainnya, Rudi Nurcahyo (24), Mohammad Fayez (23) dan Dian Hapsari (24), memang terbilang jauh lebih berpengalaman dibanding ketiga rekannya. 
Norman dan Didiek dalam proyek UI mendaki ke-7 puncak benua di dunia, sejauh ini sudah berhasil mengibarkan bendera UI di lima puncak: Puncak Carstensz Pyramid 4.884 m di Irian Jaya, Puncak McKinley 6.194 m di Alaska AS, Puncak Kilimanjaro 5.894 m di Tanzania, Puncak Elbrus 5.633 m di eks-Uni Soviet dan kemungkinan Puncak Aconcagua 6.959 m di Argentina.
Sasaran Puncak Aconcagua kali ini, merupakan lanjutan sebelum pendakian ke puncak Vinson Massif 4.877 m di Kutub Selatan dan Puncak Everest 8.848 m di Himalaya. Sebelum pendakian bermusibah ini, tim beranggota lima anggota sebetulnya sudah mendaki melalui rute Plaza Argentina yang lebih sulit dibanding jalur normal – 12 sampai 27 Februari 1992.
Sayangnya datang awal musibah, hanya tinggal lima jam di saat tim sudah menjejak di ketinggian 6.400 m. Fayez terjatuh menggelinding sekitar 500 m ke bawah dan terkilir lengan kanannya, mengharuskan tim menolong dan turun kembali untuk perawatan – termasuk amputasi jari tangan – di Santiago.
Setelah mendapat perawatan di Santiago, serta memulihkan kesehatan mereka, Norman dan Didiek memutuskan mengirim kembali ke Jakarta Fayez dan Dian, serta Rudi diharuskan istirahat untuk pemulihannya kesehatan. 
Lalu Norman yang diamputasi satu ruas jari tengah tangan kanannya, bersama Didiek kembali lagi dan menyusun rencana ekspedisi ulangan ke Aconcagua – 11 sampai 20 Maret 1992 – melalui rute normal melalui Plaza de Mulas.
Kabar musibah pun tiba, KBRI di Cile pada hari Selasa 24 Maret, mengabarkan musibah Ouncak Aconcagua ini. Bahkan kini dipastikan, Didiek Samsu meningal dunia, Normal Edwin masih dalam pencarian.
Sore tadi, pihak Rektorat UI sudah melaporkan musibah ini ke Deplu RI, Mensesneg dan Kantor Menpora. Juga keluarga Achmad Effendi sudah mengetahui kepastian musibah putra mereka – Didiek Samsu. Begitu pun Karina Arifin dan Melati – istri dan putri Norman Edwin, sudah menerima kabar tak menyenangkan ini.
Diharapkan dalam waktu singkat, Universitas Indonesia akan mengirimkan tim pendukung yang akan bekerja sama dengan KBRI di Cile, mengurus evakuasi Didiek Samsu dan mencari Norman Edwin.
Badai Salju Menghambat Pencarian, KOMPAS – Jumat, 27 Mar 1992
Badai salju di Gunung Aconcagua, Argentina, yang sudah berlangsung sejak hari Kamis (26/3) pagi sekitar pukul 05.00 pagi WIB atau malam hari Rabu (25/3) sekitar pukul enam petang waktu Argentina, menghambat pencarian Norman Edwin.
“Pencari menghentikan usahanya karena badai salju itu tidak berhenti,” kata Duta Besar Indonesia untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, melalui telepon kemarin malam.Berdasarkan perhitungan Tim SAR Argentina, jika benar Norman Edwin memilih jalur ke Plaza Argentina seperti dugaan sebelumnya, hari Rabu petang sudah tiba di Plaza Argentina, base camp Tim Indonesia (4.200 meter).
Tetapi karena badai tidak juga reda Tim SAR tidak bisa mencek ke Plaza Argentina apakah Norman sudah berada di sana. “Diharapkan sore nanti (hari Jumat, 27/3, subuh waktu Jakarta,Red) jika badai reda pencarian bisa dimulai lagi,” tambah Sukarno. 
Seandainya badai salju belum juga reda, menurut keterangan Sukarno, jenazah Didiek Samsu, salah satu korban yang berada di ketinggian 6.400 meter, paling cepat baru bisa dievakuasi sebulan atau dua bulan lagi. Karena itu, “Sebaiknya mereka yang akan ke sini jangan terburu-buru berangkat. Tunggu kabar dari saya. Takutnya telalu lama di sini. Sebaiknya dikoordinasikan dulu,” saran Sukarno.
Dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Argentina segera diutus dua orang menuju Mendoza. “Kemungkinan yang berangkat saya dan Pak Gde Arsa Kadjari Sekretaris I,” kata Medy Ch. Djufrie, Sekretaris II KBRI Argentina, kemarin ketika dihubungi melalui telepon di Buenos Aires. Mereka terutama yang akan membuat visum di Mendoza.
Memang cuaca adalah hambatan utama pendakian Puncak Aconcagua, setinggi 6.959 meter dari permukaan laut. Badai salju amat ditakuti oleh pesawat-pesawat yang melintas di atasnya. Pada puncaknya tercatat “badai putih” bisa terjadi dengan kecepatan 240 kilometer perjam dan bisa menurunkan suhu hingga minus 42 derajat Celsius.
Bagi para pendaki Aconcagua, tantangan terberat adalah masa aklimatisasi, penyesuaian kondisi tubuh terhadap ketinggian. Dari laporan-laporan pendakian yang ada, proses ini rata-rata memakan waktu sekitar satu minggu. 
BADAI SALJU MASIH MENGHAMBAT PENCARIAN, KOMPAS – Sabtu, 28 Mar 1992
Hujan salju di kawasan Gunung Aconcagua, Argentina, yang sudah berlangsung selama dua hari sejak hari Rabu (25/3), sampai berita ini diturunkan masih belum reda. “Tim evakuasi baru berangkat hari ini (Jumat siang, 27/3 waktu Argentina, Red) kalau hujan salju berhenti. Kalau masih belum berhenti tidak bisa berangkat,” kata Duta Besar Indonesia untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, Jumat(27/3) malam melalui telepon.
Sukarno juga menginformasikan semalam, ketebalan lapisan salju di ketinggian 4.200 meter saja sudah mencapai 40 centimeter.Di tempat yang lebih tinggi dikhawatirkan salju lebih tebal lagi. Jenazah Didiek diperkirakan tertutup salju yang cukup tebal sehingga sulit ditemukan kembali saat ini. “Perlu waktu lama untuk mengevakuasinya,” ungkap Sukarno.
Norman Edwin sampai Jumat siang waktu Argentina masih belum diketahui berada di mana, karena belum juga kembali. Menurut perkiraan Tim SAR Argentina, kemungkinan Norman menempuh jalur turun menuju ke Plaza Argentina (4.200 meter), jalur yang lebih sulit dibandingkan jalur normal yang lebih mudah melalui Plaza de Mulas (4.200 meter di lokasi berbeda), ulas Sukarno.
Kalau musim mendaki Plaza de Mulas dipenuhi oleh para pendaki karena biasanya dijadikan base camp sebelum mulai pendakian melalui jalur normal. Tetapi, “Sekarang sudah lewat musim mendakinya. Musim pendakian biasanya hanya sampai tanggal 15 Maret. Jadi di Plaza de Mulas tidak ada orang sama sekali sekarang,” kata Sukarno menjelaskan.
Usaha pertama Tim Pendaki Indonesia mencapai puncak Aconcagua juga melalui jalur Plaza Argentina. Mulai berangkat dari dari Puente del Inca (2.720 meter) tanggal 12 Februari dan tanggal 16 Februari seluruh anggota tim baru tiba di Plaza Argentina (4.200 meter) yang dijadikan base camp, cerita Moch. Fayez, salah satu anggota tim.
Dari base camp, perjalanan mengarah ke barat. Tanggal 24 Februari seluruh tim sudah sampai di ketinggian 6.300 meter. Besoknya, tanggal 25 Februari, Norman dan Didiek, berangkat dahulu menuju puncak yang tingginya 6.959 meter. Baru kemudian disusul oleh anggota tim lainnya.
Tetapi, pendakian dihentikan ketika sudah sampai di ketinggian 6.550 meter, kurang lebih 409 meter dari puncak Aconcagua, karena terhadang badai. “Padahal kami bertiga baru saja mulai mulai berangkat,” cerita Fayez. Perjalanan turun diputuskan melalui Plaza de Mulas (4.200 meter).
Dalam perjalan kembali ke base camp, Fayez mengalami musibah tergelincir hingga bonggol sikunya lepas. Dan, dua anggota tim lainnya, Norman dan Rudi, harus merelakan beberapa jarinya diamputasi.
Satgas khusus
Sementara itu Ketua BPLK (Badan Pembinaan Lingkungan Kampus) Universitas Indonesia, Harun Gunawan, yang juga staf Pembantu Rektor III UI, mengatakan bahwa pihak UI telah membentuk satuan tugas khusus di bawah pimpinan Purek III Merdias Almatsier sehubungan dengan musibah yang menimpa tim UI itu.
Rektor UI Sujudi sendiri saat ini sedang berada di Bangkok, Thailand, sampai Selasa (31/3).Menurut Harun yang dihubungi Kompas di gedung rektorat UI kemarin, satgas ini akan mempersiapkan segala hal tentang musibah itu, termasuk penyambutan jenasah Didiek Samsu, dan pemantauan keadaan Norman Edwin. “Kami terus kontak dengan Kedubes RI di Cile,” katanya.
Harun juga mengatakan bahwa setidaknya sampai saat ini pihak UI belum merencanakan untuk mengirim utusan ke Argentina, karena sesuai pesan Dubes RI di Cile, dr Sukarno, saat ini di lokasi kejadian sedang terjadi badai salju berkepanjangan.Lebih jauh, Harun Gunawan juga mengatakan bahwa pihak UI tidak akan mengubah sikap dalam pemberian ijin terhadap kegiatan-kegiatan Mapala UI.
Menurutnya, musibah yang telah dialami Mapala UI bukanlah baru sekali terjadi, dan kejadian itu semata kendala alam. “Kalau ada kecelakaan lalu lintas, bukan berarti lalu orang dilarang naik mobil kan ?” katanya memberikan kiasan.
Norman Edwin Ditemukan Sudah Meninggal, KOMPAS – Sabtu, 04 Apr 1992
Norman Edwin, anggota Tim Ekspedisi Pendakian Puncak Aconcagua Universitas Indonesia, sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di ketinggian 6.600 meter Gunung Aconcagua, Argentina. Berita itu diterima oleh Defensa Sipil Mendoza, dari tim pendaki gunung lainnya, melalui radio komunikasi tanggal 2 April 1992, sekitar pukul 13.15 waktu Argentina, atau hari Jumat (3/4) sekitar pukul 00.15 WIB tengah malam.
Tim pendaki gunung yang mengirimkan berita itu, secara kebetulan menemukan jenazah Norman Edwin Dr Jose Ignalio Ortogela, Direktur Defensa Sipil Mendoza, menyampaikan berita itu kepada KBRI di Buenos Aires, Argentina.KBRI di Santiago, Chile, mendapatkan berita itu dari KBRI Buenos Aires. KBRI Chile maupun KBRI Argentina sama-sama mengirimkan berita itu ke tanah air.
“Saya mendapatkan kabar ditemukan jenzah Norman dari Buenos Aires. Beritanya, ada pendaki lain yang tidak diketahui kebangsaannya menemukan jenazah Norman Edwin di ketinggian 6.600 meter. Hanya itu beritanya. Dan, belum bisa dikonfirmasi secara rinci,” kata Duta Besar Indonesia untuk Chile, Dr Sukarno Hardjosudarno, melalui telepon, Jumat malam (3/4), sekitar pukul 21.00 WIB.”Ketika saya ke Puente de Vacas, Komandan Tim SAR Argentina tidak menyebutkan kalau masih ada pendaki lainnya yang masih di puncak, karena memang waktu pendakian sudah ditutup tanggal 15 Maret,” ungkap Sukarno menambahkan.
KBRI di Buenos Aires setelah mendapatkan kabar itu juga mengutus seorang staf ke Mendoza. “Saya pagi ini segera berangkat ke Mendoza untuk mengurus segala sesuatu yang diperlukan,” kata Medy Djufrie, Sekretaris II, KBRI di Buenos Aires, ketika dihubungi hari Jakarta Jumat (3/4) malam, melalui telepon.
Sukarno juga sudah meminta Rudi Nurcahyo, anggota tim ekspedisi yang masih berada di Santiago segera menuju Puente de Vacas atau Puente del Inca untuk melihat pelaksanaan evakuasi jenazah Didiek Samsu yang menurut rencana akan dilaksanakan hari Minggu (5/4) waktu Argentina.
Didiek Samsu, anggota tim lainnya, lebih dahulu diketahui meninggal tanggal 24 Maret. Jenazah Didiek ditemukan di ketinggian 6.400 meter di Refugio Independenzia. Jenazah Didiek berada di dalam sleeping bag. Salju menutupi separuh tubuhnya mulai dari bagian ujung kaki dan sebagian tubuh dekat wajah. Di dekat jenazah ditemukan kapak es dan termos air yang sudah rusak tutupnya.
Carlos Tejerina, pendaki amatir yang menemukan jenazah Didiek, juga menemukan beberapa barang, antara lain tujuh rol film, kompas, altimeter, gaiter dan beberapa tabung gas, di Refugio Berlin (6.000 meter).
Carlos juga menemukan jejak menuju jalur Plaza Argentina melalui Gletzer Polacos, yang diperkirakan adalah jejak Norman.Karena itu, pencarian Norman, yang dilakukan oleh Tim SAR Argentina diarahkan di kawasan Plaza Argentina (4.200 meter).Tanggal 26 Maret, pencarian dihentikan karena kawasan dari Plaza Argentina sampai tepi Gletzer Polacos sudah disapu tanpa menemukan tanda-tanda di mana Norman berada.
Menurut rencana evakuasi jenazah Didiek baru bisa dilakukan tanggal hari Minggu, tanggal 5 April sambil mencari Norman di jalur pendakian normal. Diperkirakan jenazah Didiek baru tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) hari Sabtu tanggal 11 April. Itupun dengan syarat cuaca memungkinkan melakukan evakuasi.
Posko Mapala UI memutuskan akan mengutus Sugihono Sutedjo, anggota Tim Pendakian Puncak Tujuh Benua UI, ke lokasi di Puente del Inca untuk membantu Rudi dan KBRI Argentina, KBRI Chile, koordinasi evakuasi jenazah Didiek dan Norman. Soegihono akan berangkat hari Minggu (5/4).
EVAKUASI JENAZAH DIDIEK DIUNDUR HARI MINGGU, KOMPAS – Jumat, 03 Apr 1992
Evakuasi jenazah Didiek Samsu, yang meninggal dalam ekspedisi pendakian Gunung Aconcagua di Argentina, diundurkan hinggga hari Minggu (5/4), dengan syarat cuaca di lokasi cerah.
Rencana evakuasi yang semula direncanakan dimulai hari Jumat (3/4)ini (Kompas, 31/3), diundurkan karena Tim SAR yang ada masih menunggu kedatangan tim SAR profesional dari San Juan tanggal 4 April. Demikian berita yang diterima Kompas dari Koordinator Posko Mapala UI, Arianto T, hari Kamis (2/3).
Posko Mapala UI menerima berita itu dari Dubes RI di Cile dan Rudi Nurcahyo, anggota tim ekspedisi pendakian Aconcagua yang masih berada di Cile.Jenazah Didiek ditemukan terbujur di dalam kantong tidur di Refugio Independenzia, ketinggian 6.400 meter, tanggal 23 Maret 1992. Waktu itu, salju separuh sebagian tubuhnya dari bagian kaki dan sekitar mukanya.
Di dekatnya ditemukan kapak es dan termos air.Letnan Kolonel Juan Antonio Tora, Komandan SAR Argentina menjadwalkan tim evakuasi akan berangkat hari Minggu (5/4) dari Puente de Vacas. Diperkirakan tim tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) hari Senin (6/4), untuk aklimatisasi.
Hari Selasa (7/4) tim naik ke Nido Condores, bermalam di situ. Hari Rabu (8/4) tim menuju ke Refugio Berlin (6.000 meter). Baru hari Kamis (9/4), tim evakuasi menuju Refugio Independenzia (6.400 meter) mengambil jenazah untuk dibawa ke Refugio Berlin. Hari Jumat (10/4), jenazah baru diturunkan dari Berlin ke Plaza de Mulas. Hari Sabtu (11/4) jenazah tiba Plaza de Mulas dan langsung dibawa ke Puente del Inca.
Dari sana dengan mobil diangkut menuju poliklinik Uspalleta, 60 kilometer dari Plaza de Mulas, untuk pemeriksaan visum et repetum. Selanjutnya, jenazah di bawa ke Mendoza untuk dibalsem dan dimasukkan ke dalam peti.
Pencarian Norman
Menurut keterangan Letkol Juan Antonio Tora, sangat kecil kemungkinan Norman Edwin masih Hidup. Tim SAR yang dipimpinnya sudah menelusuri rute pendakian Puente de Vacas-Plaza Argentina-kaki Gletzer Polacos, yang jalur yang diperkirakan diambil Norman, tidak menemukan Norman.
Letkol Tora memperkirakan Norman Edwin terperosok ke dalam crevasse, celah-celah es, yang kedalamannya bisa mencapai 10 meter dan selalu berubah-ubah tempatnya. Celah-celah itu pada musim panas mudah terlihat, sedangkan di musim dingin atasnya tetutup salju.
Tim SAR sendiri belum menyelusuri daerah itu karena sangat berbahaya, tetapi berjanji akan meneruskan pencarian Norman apabila situasi mengizinkan.Kontak berita terakhir mengenai Norman dan Didiek, yang berangkat menuju puncak tanggal 12 Maret, dari pendaki negara lain yang berpapasan di Refugio Independenzia. Waktu itu, tanggal 19 Maret, Norman mendapat gangguan pada tangannya dan Didiek mengalami gangguan penglihatan.Seharusnya Norman dan Didiek sudah kembali ke Plaza de Mulas tanggal 20 Maret.
Karena sampai tanggal itu belum juga kembali, Carlos, pendaki lokal yang berpengalaman dan memiliki lisensi SAR, dengan beberapa kawannya menuju ke atas dan menemukan jenazah Didiek sudah terbujur kaku, tanggal 23 Maret.Pencarian Norman selanjutnya dilakukan oleh enam anggota SAR Argentina pimpiman Letkol Juan Antonio Taro.
Tetapi, tanggal 26 Maret karena badai dan di Plaza Argentina, lokasi sasaran SAR, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Norman, pencarian dihentikan sementara. Tim SAR Argentina Gendarmarie kemudian mengadakan koordinasi kembali yang juga dihadiri oleh Medy Ch. Djufrie, wakil dari KBRI Argentina.
Kalau memang pencarian Norman akan dilanjutkan, menurut perkiraan baru pada bulan November, karena musim mendaki memang antara awal November sampai 15 Maret. Saat itu juga sudah musim panas, jadi salju sudah mencair. (sur)
EVAKUASI TERHAMBAT, KOMPAS – Jumat, 10 Apr 1992
Usaha evakuasi jenazah Didiek Samsu dan Norman Edwin, dua pendaki anggota tim ekspedisi ke Puncak Aconcagua, Argentina, terhambat oleh tebalnya salju di lereng Aconcagua. “Tanggal 8 April (waktu Chile, Red) Tim SAR sudah sampai ke ketinggian 5.200 meter.
Ternyata di sana salju tebalnya mencapai 60 sampai 70 centimeter. Terpaksa turun lagi ke Plaza de Mulas,” kata Duta Besar Indonesia untuk Chile, dr Sukarno Hardjosudarno ketika dihubungi melalui telepon hari Kamis malam (9/4) waktu Jakarta atau siang hari waktu Chile.Tanggal 9 April, waktu Argentina, Tim SAR merencanakan kembali naik menuju Refugio Berlin (6.000 meter).
Seandainya cuaca baik, Tim SAR tiba di Berlin tanggal 10 April. Hari itu juga Tim SAR menuju ke lokasi jenazah Didiek Samsu di Refugio Independenzia (6.400 meter) untuk melakukan evakuasi jenazah Didiek Samsu dan Norman Edwin (di ketinggian 6.700 meter) dan segera kembali ke Berlin.Jika semua berjalan lancar, tanggal 11 April jenazah sudah tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) dan tanggal 12 April tiba di Puente del Inca untuk divisum di Uspallata.
Tetapi, “Ramalan cuaca hari ini (tanggal 9 April siang waktu Chile, Red) memperkirakan akan turun lagi hujan salju. Kalau benar berarti Tim SAR tidak bisa menuju lokasi,” kata Sukarno memperkirakan.Berarti dua pendaki Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Mapala UI itu, yang bisa dibilang pendaki terbaik Indonesia saat ini, sampai hari ini sudah 30 hari berada di kawasan Puncak Aconcagua.
Norman dan Didiek berangkat melakukan pendakian ulang tanggal 11 Maret 1992 bulan lalu. Tanggal 24 Maret Didiek Samsu ditemukan sudah meninggal di ketinggian 6.400 meter. Kemudian tanggal 2 April Norman Edwin ditemukan oleh rombongan pendaki asing lainnya sudah meninggal di lereng es dengan kemiringan 40 derajat di ketinggian 6.700 meter.
Badan Pengurus Mapala UI dan anggota Mapala UI lainnya, hari Sabtu (11/4), pukul 19.30, mengadakan doa tahlilan bagi kedua rekan mereka di Masjid Arif Rachman Hakim Kampus UI Salemba. (tom/sur)
Published: By: Unknown - 00.21

Selasa, 16 Februari 2016

Puncak Limas

Puncak Limas Gunung Wilis

Salam Lestari !!

Kali ini authors akan posting perjalanan pendakian gunung yang gak terlalu tinggi dan jauh dari rumah authors namun cukup melelahkan dan asyik juga. Gunung itu terletak diantara Kabupaten Kediri, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan juga Trenggalek gaes. Nama gunung tersebut adalah Wilis, namun Gunung Wilis memiliki beberapa puncak di tiap daerahnya, dan authors akan posting pendakian Puncak Limas via Air Terjun Roro Kuning.

Air Terjun Roro Kuning

Air Terjun Roro Kuning
Air Terjun Roro Kuning terletak di Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.Untuk menuju Air Terjun dari Kediri kita ke utara mengikuti petunjuk arah ke Nganjuk, setelah cukup jauh melewati Gapura masuk Kabupaten Nganjuk ada percabangan jalan miring dan lurus, langsung ambil lurus kemudian nanti ada petunjuk menuju Air Terjun Roro Kuning.
Air terjun ini akan menjadi titik awal pendakian ini dimana pertama-tama kita harus mendaftar di Mandor Perhutani yang kediamannya tidak jauh dari loket masuk Air Terjun Roro Kuning. Hal yang harus didata adalah nama setiap pendaki, Nomor Telpon (Perwakilan, biasanya diminta nomor Simpati karena sinyalnya lebih bagus disana), kemudian diminta meninggalkan salah satu Kartu Identitas dan juga membayar uang 5 ribu rupiah untuk setiap pendaki. Kemudian untuk parkir motor kita bisa memparkirkannya dirumah warga sekitar dekat loket dengan biaya 5 ribu rupiah per motor.

Pendakian Limas

Untuk mencapai puncak Limas kita nanti akan melewati 10 Pos yaitu Kamituwo Glundung => Watu Lanceng => Gentongan => Watu Tahu => Alap-Alap => Area Lapangan => Sekartaji => Pospan-Pospan => Cemoro Beser => Dalan Banteng => Puncak Limas
Biasanya para pendaki akan berhenti di Pos Sekartaji Karena Pos sekartaji merupakan area camp yang mampu menampung sekitar 8-10 Tenda serta memiliki sumber air.Lama Perjalanan dari Air Terjun Roro Kuning menuju Pos Sekartaji adalah 3-4 Jam dengan jalan yang cenderung melewati hutan yang cukup lebat dengan pinggiran jurang.
Kemudian Jarak dari Pos Sekartaji menuju Puncak Limas sekitar 3-4 Jam'an dengan trek yang lebih menanjak daripada sebelumnya namun dengan pemandangan ilalang atau rumput di sepanjang jalan, namun ketika mendekati puncak juga akan melewati hutan
Puncak Limas ditandai dengan Plat Bertuliskan
Puncak Limas 
MT. Wilis 
2300 MdPL 
Belalang
Sedikit gambaran dari Authors nih Gaes 
Pemandangan di sekitar Pos Area Lapangan

Cuaca yang kurang bersahabat

Punggungan Gunung kearah bawah (tempat camp kami)

Pemandangan atas

Hijau Kan Gaes

Authors (Roziq)
Diatas Awan walau awan nan jauh disana

Pemandangan dari Puncak

Full Team
(Dari Kanan) Da'i, Tio, Gus Yan, Aan, Roziq

Ketika turun dari Puncak

Yang kayak gini juga ada

Published: By: Unknown - 05.00

Selasa, 09 Februari 2016

Merbabu via Selo Tahun Baru 2016

Sunrise Merbabu Tahun Baru 2016 

Catatan bermula ketika tanggal 30 Desember 2015 authors bersama rekan berangkat dari kediri bermaksud menuju boyolali menggunakan kendaraan umum bis nih, alhasil rute oper bus yang kami ambil adalah
Kediri-Nganjuk (Bus Kawan Kita) => Nganjuk-Boyolali (Bus MIRA / EKA / Sugeng Rahayu) => Boyolali-Cepogo (Bus Arif) => Cepogo-Selo (Mobil Pick Up Sayur) => Selo-Basecamp Selo Merbabu [Pak Parman] (Jalan Kaki)
Sekitar seperti itulah gan oper bus yang kami lakukan, namun sisi baiknya kami hanya merogoh kantong sebesar 53rb tuh gaes.

Pengantar Gunung Merbabu

Gunung merbabu tuh paling terkenal dengan sabananya gaes, Sejauh yang authors tau ada 4 Jalur Pendakian yaitu Via Selo, Wekas, Kopeng dan baru-baru ini nambah via suwanting, namun karena authors bingung mencari angkutan ke beberapa pos pendakian akhirnya authors memilih mendaki via Selo, Boyolali, Jawa tengah.
Selo ini sebenarnya juga daerahnya pendakian gunung Merapi yang saling berhadapan dengan maerbabu, namun karena keterbatasan waktu dan biaya akhirnya kami memutuskan untuk mendaki gunung Merbabu saja

Merbabu Via Selo

Pendakian Merbabu via Selo memiliki 5 Pos dengan 3 puncak Merbabu yaitu Puncak Syarif, Puncak Kentheng Songo & Puncak Trianggulasi sedangkan tempat favorit untuk camp ada di Sabana I dan Sabana II. Untuk SIMAKSInya dipatok dengan harga 5 ribu sekali masuk, dan 5 ribu / hari, karena authors mendaki 2 hari jadi uang untuk mendaki sebesar 15 ribu.

untuk pos-posnya sebagai berikut:
Pos 1 (Dok Malang) => Pos 2 (Tikungan Macan) => Pos 3 (Batu Tulis) => Sabana I => Sabana II => Puncak Merbabu.
Menurut Petunjuk yang ada disetiap pos pendakian, pendakian akan berlangsung selama 6 jam 15 menit dengan jalan yang menanjak walaupun jalur Selo ramah Pemula, tetapi authors bersama rekan berhasil mendaki sampai puncak Merbabu dengan waktu 5 Jam 10 Menit dimana kami mendirikan tenda di Sabana II.

Sedikit Foto dari authors nih




Tenda Authors tuh di Sabana II

Sunrise Begin


View Merapi dai Puncak Merbabu


Ketika Lautan Awan disinari Matahari
Authors (kanan) Bersama Rekan
Published: By: Unknown - 05.21

Selasa, 02 Februari 2016

Peralatan Mendaki Gunung

Daftar Peralatan Pendakian Gunung

 
Peralatan Pribadi

 

  • Tas gunung/ Carier/ Daypack [Ukuran sesuaikan kebutuhan]
  • Jaket gunung [Waterproof / Windbreaker]
  • Pakaian (Kaos / PDL, Celana Panjang/Pendek) + Cadangan
  • Matras
  • Sepatu hiking
  • Sandal gunung (cadangan)
  • Sleeping bag
  • Senter/ Headlamp
  • Tongkat (optional)
  • Kompas dan peta (optional)
  • Jam tangan 
  • Ponco/jas hujan
  • Kaos kaki
  • Sarung tangan
  • Topi rimba / Balaclava / Kupluk / Buff
  • Gaiter (penghalang pasir agar tidak masuk ke sepatu)
  • Korek api
  • Pisau lipat
  • Peralatan makan
  • Peralatan mandi
  • Peralatan Sholat (Bagi Muslim) 
  • Obat pribadi 
  • Logistik & Snack

 Peralatan Kelompok

  • Tenda [Double Layer & Breathable]
  • Kompor (bisa berbahan bakar Spiritus / Gas / Parafin)
  • Nesting (panci untuk memasak)
  • Kamera + baterai cadangan atau membawa power bank
  • Perlengkapan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)
  • Tempat Air / Jurigen

 Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

  • Kapas
  • Tisu (basah dan kering)
  • Betadine
  • Alkohol
  • Obat diare
  • Parasetamol
  • Obat Alergi 
  • Obat mata
  • Kain kassa/Perban
  • Plester 
  • Oralit
  • Minyak kayu putih
  • Sunblock
  • Tabung Oksigen 

Sumber: www.jejaksibolang.com

Published: By: Unknown - 04.42