Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 19 Februari 2016

Tag: ,

Tewasnya Dua Legenda 7 Summiter Indonesia (1992)


 Tewasnya Norman Edwin dan Didiek Samsu, Legenda Seven Summiter MAPALA UI
Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Universitas Indonesia ke Puncak Aconcagua (6.960 meter) mengalami musibah pada tahun 1992. 
Berita dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cile menyampaikan hari Minggu (22/3) telah menerima telepon dari Puenta del Inca, kota terakhir di Argentina sebelum Puncak Aconcagua di Pegunungan Andes Amerika Selatan, dua orang anggota tim Mapala UI yaitu Norman Edwin(37) dan Didiek Samsu (28), mengalami musibah.
Hari Senin (23/3) sekitar pukul 19.30 waktu setempat atau pukul 05.30 pagi hari Selasa (24/3), diperoleh berita dari Kedutaan Besar Argentina di Santiago, Cile, tim SAR Argentina sudah melakukan pencekan atas kemungkinan musibah yang menimpa wartawan Kompas – Norman – dan wartawan Majalah Jakarta Jakarta – Didiek Samsu.
Pendakian kedua pendaki Indonesia ini, sebetulnya merupakan pendakian ulangan. Saat pertama, rombongan ekspedisi berjumlah lima anggota (Rudy Nurcahyo, 24, Mohammad Fayez, 23, serta satu anggota putri Dian Hapsari, 24) ini sudah melakukan pendakian, tanggal 12 – 27 Februari 1992.
Namun dua hari menjelang tiba di puncak, Fayez mendapat kecelakaan. “Tangan saya terkilir, lalu Norman dan Rudy menolong saya, namun kami terperangkap badai salju. Baru lima hari kemudian, kami bertiga tiba di Puenta del Inca.
Sedangkan Didiek bersama Dian, sudah tiba lebih dulu ke bawah,” ujar Fayez yang Jumat 13 Maret sudah tiba di Jakarta, bersama Dian.Setelah dirawat di rumah sakit, ternyata Rudy dan Norman harus diamputasi ruas jari mereka, akibat serangan radang beku (frost bite). “Norman dipotong satu ruas jari tengah tangan kirinya, sedang Rudy diamputasi satu ruas jari telunjuk, tengah, jari manis dan kelingking tangan kirinya, serta satu ruas jari manis tangan kirinya,’ tutur Fayez.
Rudy harus dirawat di rumah sakit di Santiago, sedangkan Norman bersama Didiek, pimpinan dan wakil pimpinan tim pendakian – memutuskan untuk mendaki ulang.”Saya bersama Dian pulang lebih dahulu, karena tiket hampir kadaluwarsa,” kata Fayez.
Norman yang baru sembuh, bersama Didiek mendaki lagi.Pendakian kali ini menurut rencana akan mengambil rute timur yang “normal” (berbeda dengan pendakian pertama di jalur barat yang lebih berat).
Menurut rencana kedua wartawan pendaki ini, perjalanan mereka untuk mencapai puncak kelima dari tujuh puncak tertinggi di tujuh benua dunia, hanya berlangsung antara tanggal 11 sampai 21 Maret 1992. “Saya rasa, petugas SAR yang mencatat rencana Norman dan Didiek, setelah lewat tanggal itu segera mencari.
Akhirnya, ya itu, fax dari KBRI menyatakan kalau tim SAR menemukan salah satu dari mereka tanpa rincian musibahnya, serta menyebut kalau seorang lagi, entah siapa, belum ditemukan,” ungkap Fayez.
KBRI Cile di Santiago, dikabarkan kini berupaya mendatangi langsung tempat kejadian peristiwa di Puenta del Inca. Namun menurut kabar terakhir, badai salju melanda pegunungan tengah itu, hingga helikopter carteran pun susah melintasinya.
Sedangkan dari Puenta del Inca yang tak punya hubungan telepon, sumber di sana menyatakan kalau tim SAR terus sedang mencari dan mengidentifikasi musibah sebenarnya.Rektor UI Prof Dr Sujudi yang sudah menerima kabar ini langsung dari Deplu RI, menyatakan pihak UI tetap memonitor perkembangan kabar musibah ini. Serta akan menghubungi Deplu RI dan beberapa instansi terkait untuk bantuan yang dibutuhkan. Juga direncanakan, tim UI akan mengirim tim pendamping dari Jakarta.
Musibah Puncak Aconcagua: Didiek Meninggal, Norman Dicari. KOMPAS – Kamis, 26 Mar 1992
Musibah Puncak Aconcagua yang menerpa dua anggota Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Universitas Indonesia di Argentina, Kedubes RI di Cile mengkonfirmasikan kalau tim SAR Argentina bersama staf KBRI, sudah mengidentifikasi satu jenazah itu Didiek Samsu (30).
Sedangkan pendaki lainnya, Norman Edwin (37), sampai berita ini diturunkan masih belum ditemukan di sekitar tempat kejadian – di ketinggian 6.200 meter – menjelang puncak gunung tertinggi di benua Amerika Selatan.Dubes RI untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, menegaskan kepada Kompas: “Jenazah yang kemarin belum dapat diidentifikasi itu, kini sudah pasti Didiek Samsu Wahyu Triachdi.
Sedangkan Norman mungkin masih hidup, namun tim SAR sampai kini belum dapat menemukannya,” ujar Sukarno melalui telepon. “Situasi medan di ketinggian 6.400 meter yang kini bercuaca buruk, menyulitkan proses evakuasi dengan helikopter.
Tiga staf kami bersama Rudi Nurcahyo – anggota ekspedisi Mapala UI yang baru sembuh setelah diamputasi lima ruas jari tangannya, kini masih memonitor perkembangan SAR itu di Puente del Inca pada ketinggian 2.720 meter.”Dalam teleks terakhir dari KBRI di Cile, dijelaskan Norman sebagai pemimpin tim ekspedisi yang berstatus sebagai wartawan Kompas yang mengambil cuti “di luar tanggungan perusahaan”, diperkirakan mengambil rute menurun melalui Plaza Argentina yang lebih sulit, dibanding rute normal Plaza de Mulas.
Dengan rute ini, Norman seharusnya sudah tiba di Plaza Argentina di Puenta del Inca pada tanggal 25 Maret pukul 18.00 waktu setempat atau 26 Maret pukul 05.00 WIB. Selanjutnya menurut teleks KBRI: Bila ternyata Norman Edwin belum tiba di Punta del Inca, maka tim pencari yg sudah berada di lokasi sekitar Plaza Argentina akan memperpanjang pencariannya dua hari lagi.
Khususnya soal Didiek Samsu, pihak KBRI di lokasi mengkorfimasi kalau kendala cuaca buruk, serta medan sulit untuk evakuasi jenazah dari ketinggian 6.400 turun ke 4.200 meter, memerlukan waktu sekitar 10 hari.
Dari sana, jenazah harus dibawa lagi ke Mendoza di Argentina untuk visum dan perawatan, baru setelah itu diterbangkan helikopter ke Santiago. “Saya memperkirakan sekitar tanggal 5 April, jenazah itu baru dapat kami urus di Santiago, serta mengurus evakuasi secepatnya ke Jakarta,” kata Sukarno melalui telepon perihal jenazah Didiek – pendaki gunung dan arkeolog UI, juga wartawan Majalah Jakarta Jakarta.
Musibah kedua
Norman dan Didiek – pimpinan dan wapim ekspedisi ini – di antara ketiga kawan lainnya, Rudi Nurcahyo (24), Mohammad Fayez (23) dan Dian Hapsari (24), memang terbilang jauh lebih berpengalaman dibanding ketiga rekannya. 
Norman dan Didiek dalam proyek UI mendaki ke-7 puncak benua di dunia, sejauh ini sudah berhasil mengibarkan bendera UI di lima puncak: Puncak Carstensz Pyramid 4.884 m di Irian Jaya, Puncak McKinley 6.194 m di Alaska AS, Puncak Kilimanjaro 5.894 m di Tanzania, Puncak Elbrus 5.633 m di eks-Uni Soviet dan kemungkinan Puncak Aconcagua 6.959 m di Argentina.
Sasaran Puncak Aconcagua kali ini, merupakan lanjutan sebelum pendakian ke puncak Vinson Massif 4.877 m di Kutub Selatan dan Puncak Everest 8.848 m di Himalaya. Sebelum pendakian bermusibah ini, tim beranggota lima anggota sebetulnya sudah mendaki melalui rute Plaza Argentina yang lebih sulit dibanding jalur normal – 12 sampai 27 Februari 1992.
Sayangnya datang awal musibah, hanya tinggal lima jam di saat tim sudah menjejak di ketinggian 6.400 m. Fayez terjatuh menggelinding sekitar 500 m ke bawah dan terkilir lengan kanannya, mengharuskan tim menolong dan turun kembali untuk perawatan – termasuk amputasi jari tangan – di Santiago.
Setelah mendapat perawatan di Santiago, serta memulihkan kesehatan mereka, Norman dan Didiek memutuskan mengirim kembali ke Jakarta Fayez dan Dian, serta Rudi diharuskan istirahat untuk pemulihannya kesehatan. 
Lalu Norman yang diamputasi satu ruas jari tengah tangan kanannya, bersama Didiek kembali lagi dan menyusun rencana ekspedisi ulangan ke Aconcagua – 11 sampai 20 Maret 1992 – melalui rute normal melalui Plaza de Mulas.
Kabar musibah pun tiba, KBRI di Cile pada hari Selasa 24 Maret, mengabarkan musibah Ouncak Aconcagua ini. Bahkan kini dipastikan, Didiek Samsu meningal dunia, Normal Edwin masih dalam pencarian.
Sore tadi, pihak Rektorat UI sudah melaporkan musibah ini ke Deplu RI, Mensesneg dan Kantor Menpora. Juga keluarga Achmad Effendi sudah mengetahui kepastian musibah putra mereka – Didiek Samsu. Begitu pun Karina Arifin dan Melati – istri dan putri Norman Edwin, sudah menerima kabar tak menyenangkan ini.
Diharapkan dalam waktu singkat, Universitas Indonesia akan mengirimkan tim pendukung yang akan bekerja sama dengan KBRI di Cile, mengurus evakuasi Didiek Samsu dan mencari Norman Edwin.
Badai Salju Menghambat Pencarian, KOMPAS – Jumat, 27 Mar 1992
Badai salju di Gunung Aconcagua, Argentina, yang sudah berlangsung sejak hari Kamis (26/3) pagi sekitar pukul 05.00 pagi WIB atau malam hari Rabu (25/3) sekitar pukul enam petang waktu Argentina, menghambat pencarian Norman Edwin.
“Pencari menghentikan usahanya karena badai salju itu tidak berhenti,” kata Duta Besar Indonesia untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, melalui telepon kemarin malam.Berdasarkan perhitungan Tim SAR Argentina, jika benar Norman Edwin memilih jalur ke Plaza Argentina seperti dugaan sebelumnya, hari Rabu petang sudah tiba di Plaza Argentina, base camp Tim Indonesia (4.200 meter).
Tetapi karena badai tidak juga reda Tim SAR tidak bisa mencek ke Plaza Argentina apakah Norman sudah berada di sana. “Diharapkan sore nanti (hari Jumat, 27/3, subuh waktu Jakarta,Red) jika badai reda pencarian bisa dimulai lagi,” tambah Sukarno. 
Seandainya badai salju belum juga reda, menurut keterangan Sukarno, jenazah Didiek Samsu, salah satu korban yang berada di ketinggian 6.400 meter, paling cepat baru bisa dievakuasi sebulan atau dua bulan lagi. Karena itu, “Sebaiknya mereka yang akan ke sini jangan terburu-buru berangkat. Tunggu kabar dari saya. Takutnya telalu lama di sini. Sebaiknya dikoordinasikan dulu,” saran Sukarno.
Dari Kedutaan Besar Indonesia untuk Argentina segera diutus dua orang menuju Mendoza. “Kemungkinan yang berangkat saya dan Pak Gde Arsa Kadjari Sekretaris I,” kata Medy Ch. Djufrie, Sekretaris II KBRI Argentina, kemarin ketika dihubungi melalui telepon di Buenos Aires. Mereka terutama yang akan membuat visum di Mendoza.
Memang cuaca adalah hambatan utama pendakian Puncak Aconcagua, setinggi 6.959 meter dari permukaan laut. Badai salju amat ditakuti oleh pesawat-pesawat yang melintas di atasnya. Pada puncaknya tercatat “badai putih” bisa terjadi dengan kecepatan 240 kilometer perjam dan bisa menurunkan suhu hingga minus 42 derajat Celsius.
Bagi para pendaki Aconcagua, tantangan terberat adalah masa aklimatisasi, penyesuaian kondisi tubuh terhadap ketinggian. Dari laporan-laporan pendakian yang ada, proses ini rata-rata memakan waktu sekitar satu minggu. 
BADAI SALJU MASIH MENGHAMBAT PENCARIAN, KOMPAS – Sabtu, 28 Mar 1992
Hujan salju di kawasan Gunung Aconcagua, Argentina, yang sudah berlangsung selama dua hari sejak hari Rabu (25/3), sampai berita ini diturunkan masih belum reda. “Tim evakuasi baru berangkat hari ini (Jumat siang, 27/3 waktu Argentina, Red) kalau hujan salju berhenti. Kalau masih belum berhenti tidak bisa berangkat,” kata Duta Besar Indonesia untuk Cile, Dr Sukarno Hardjosudarno, Jumat(27/3) malam melalui telepon.
Sukarno juga menginformasikan semalam, ketebalan lapisan salju di ketinggian 4.200 meter saja sudah mencapai 40 centimeter.Di tempat yang lebih tinggi dikhawatirkan salju lebih tebal lagi. Jenazah Didiek diperkirakan tertutup salju yang cukup tebal sehingga sulit ditemukan kembali saat ini. “Perlu waktu lama untuk mengevakuasinya,” ungkap Sukarno.
Norman Edwin sampai Jumat siang waktu Argentina masih belum diketahui berada di mana, karena belum juga kembali. Menurut perkiraan Tim SAR Argentina, kemungkinan Norman menempuh jalur turun menuju ke Plaza Argentina (4.200 meter), jalur yang lebih sulit dibandingkan jalur normal yang lebih mudah melalui Plaza de Mulas (4.200 meter di lokasi berbeda), ulas Sukarno.
Kalau musim mendaki Plaza de Mulas dipenuhi oleh para pendaki karena biasanya dijadikan base camp sebelum mulai pendakian melalui jalur normal. Tetapi, “Sekarang sudah lewat musim mendakinya. Musim pendakian biasanya hanya sampai tanggal 15 Maret. Jadi di Plaza de Mulas tidak ada orang sama sekali sekarang,” kata Sukarno menjelaskan.
Usaha pertama Tim Pendaki Indonesia mencapai puncak Aconcagua juga melalui jalur Plaza Argentina. Mulai berangkat dari dari Puente del Inca (2.720 meter) tanggal 12 Februari dan tanggal 16 Februari seluruh anggota tim baru tiba di Plaza Argentina (4.200 meter) yang dijadikan base camp, cerita Moch. Fayez, salah satu anggota tim.
Dari base camp, perjalanan mengarah ke barat. Tanggal 24 Februari seluruh tim sudah sampai di ketinggian 6.300 meter. Besoknya, tanggal 25 Februari, Norman dan Didiek, berangkat dahulu menuju puncak yang tingginya 6.959 meter. Baru kemudian disusul oleh anggota tim lainnya.
Tetapi, pendakian dihentikan ketika sudah sampai di ketinggian 6.550 meter, kurang lebih 409 meter dari puncak Aconcagua, karena terhadang badai. “Padahal kami bertiga baru saja mulai mulai berangkat,” cerita Fayez. Perjalanan turun diputuskan melalui Plaza de Mulas (4.200 meter).
Dalam perjalan kembali ke base camp, Fayez mengalami musibah tergelincir hingga bonggol sikunya lepas. Dan, dua anggota tim lainnya, Norman dan Rudi, harus merelakan beberapa jarinya diamputasi.
Satgas khusus
Sementara itu Ketua BPLK (Badan Pembinaan Lingkungan Kampus) Universitas Indonesia, Harun Gunawan, yang juga staf Pembantu Rektor III UI, mengatakan bahwa pihak UI telah membentuk satuan tugas khusus di bawah pimpinan Purek III Merdias Almatsier sehubungan dengan musibah yang menimpa tim UI itu.
Rektor UI Sujudi sendiri saat ini sedang berada di Bangkok, Thailand, sampai Selasa (31/3).Menurut Harun yang dihubungi Kompas di gedung rektorat UI kemarin, satgas ini akan mempersiapkan segala hal tentang musibah itu, termasuk penyambutan jenasah Didiek Samsu, dan pemantauan keadaan Norman Edwin. “Kami terus kontak dengan Kedubes RI di Cile,” katanya.
Harun juga mengatakan bahwa setidaknya sampai saat ini pihak UI belum merencanakan untuk mengirim utusan ke Argentina, karena sesuai pesan Dubes RI di Cile, dr Sukarno, saat ini di lokasi kejadian sedang terjadi badai salju berkepanjangan.Lebih jauh, Harun Gunawan juga mengatakan bahwa pihak UI tidak akan mengubah sikap dalam pemberian ijin terhadap kegiatan-kegiatan Mapala UI.
Menurutnya, musibah yang telah dialami Mapala UI bukanlah baru sekali terjadi, dan kejadian itu semata kendala alam. “Kalau ada kecelakaan lalu lintas, bukan berarti lalu orang dilarang naik mobil kan ?” katanya memberikan kiasan.
Norman Edwin Ditemukan Sudah Meninggal, KOMPAS – Sabtu, 04 Apr 1992
Norman Edwin, anggota Tim Ekspedisi Pendakian Puncak Aconcagua Universitas Indonesia, sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di ketinggian 6.600 meter Gunung Aconcagua, Argentina. Berita itu diterima oleh Defensa Sipil Mendoza, dari tim pendaki gunung lainnya, melalui radio komunikasi tanggal 2 April 1992, sekitar pukul 13.15 waktu Argentina, atau hari Jumat (3/4) sekitar pukul 00.15 WIB tengah malam.
Tim pendaki gunung yang mengirimkan berita itu, secara kebetulan menemukan jenazah Norman Edwin Dr Jose Ignalio Ortogela, Direktur Defensa Sipil Mendoza, menyampaikan berita itu kepada KBRI di Buenos Aires, Argentina.KBRI di Santiago, Chile, mendapatkan berita itu dari KBRI Buenos Aires. KBRI Chile maupun KBRI Argentina sama-sama mengirimkan berita itu ke tanah air.
“Saya mendapatkan kabar ditemukan jenzah Norman dari Buenos Aires. Beritanya, ada pendaki lain yang tidak diketahui kebangsaannya menemukan jenazah Norman Edwin di ketinggian 6.600 meter. Hanya itu beritanya. Dan, belum bisa dikonfirmasi secara rinci,” kata Duta Besar Indonesia untuk Chile, Dr Sukarno Hardjosudarno, melalui telepon, Jumat malam (3/4), sekitar pukul 21.00 WIB.”Ketika saya ke Puente de Vacas, Komandan Tim SAR Argentina tidak menyebutkan kalau masih ada pendaki lainnya yang masih di puncak, karena memang waktu pendakian sudah ditutup tanggal 15 Maret,” ungkap Sukarno menambahkan.
KBRI di Buenos Aires setelah mendapatkan kabar itu juga mengutus seorang staf ke Mendoza. “Saya pagi ini segera berangkat ke Mendoza untuk mengurus segala sesuatu yang diperlukan,” kata Medy Djufrie, Sekretaris II, KBRI di Buenos Aires, ketika dihubungi hari Jakarta Jumat (3/4) malam, melalui telepon.
Sukarno juga sudah meminta Rudi Nurcahyo, anggota tim ekspedisi yang masih berada di Santiago segera menuju Puente de Vacas atau Puente del Inca untuk melihat pelaksanaan evakuasi jenazah Didiek Samsu yang menurut rencana akan dilaksanakan hari Minggu (5/4) waktu Argentina.
Didiek Samsu, anggota tim lainnya, lebih dahulu diketahui meninggal tanggal 24 Maret. Jenazah Didiek ditemukan di ketinggian 6.400 meter di Refugio Independenzia. Jenazah Didiek berada di dalam sleeping bag. Salju menutupi separuh tubuhnya mulai dari bagian ujung kaki dan sebagian tubuh dekat wajah. Di dekat jenazah ditemukan kapak es dan termos air yang sudah rusak tutupnya.
Carlos Tejerina, pendaki amatir yang menemukan jenazah Didiek, juga menemukan beberapa barang, antara lain tujuh rol film, kompas, altimeter, gaiter dan beberapa tabung gas, di Refugio Berlin (6.000 meter).
Carlos juga menemukan jejak menuju jalur Plaza Argentina melalui Gletzer Polacos, yang diperkirakan adalah jejak Norman.Karena itu, pencarian Norman, yang dilakukan oleh Tim SAR Argentina diarahkan di kawasan Plaza Argentina (4.200 meter).Tanggal 26 Maret, pencarian dihentikan karena kawasan dari Plaza Argentina sampai tepi Gletzer Polacos sudah disapu tanpa menemukan tanda-tanda di mana Norman berada.
Menurut rencana evakuasi jenazah Didiek baru bisa dilakukan tanggal hari Minggu, tanggal 5 April sambil mencari Norman di jalur pendakian normal. Diperkirakan jenazah Didiek baru tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) hari Sabtu tanggal 11 April. Itupun dengan syarat cuaca memungkinkan melakukan evakuasi.
Posko Mapala UI memutuskan akan mengutus Sugihono Sutedjo, anggota Tim Pendakian Puncak Tujuh Benua UI, ke lokasi di Puente del Inca untuk membantu Rudi dan KBRI Argentina, KBRI Chile, koordinasi evakuasi jenazah Didiek dan Norman. Soegihono akan berangkat hari Minggu (5/4).
EVAKUASI JENAZAH DIDIEK DIUNDUR HARI MINGGU, KOMPAS – Jumat, 03 Apr 1992
Evakuasi jenazah Didiek Samsu, yang meninggal dalam ekspedisi pendakian Gunung Aconcagua di Argentina, diundurkan hinggga hari Minggu (5/4), dengan syarat cuaca di lokasi cerah.
Rencana evakuasi yang semula direncanakan dimulai hari Jumat (3/4)ini (Kompas, 31/3), diundurkan karena Tim SAR yang ada masih menunggu kedatangan tim SAR profesional dari San Juan tanggal 4 April. Demikian berita yang diterima Kompas dari Koordinator Posko Mapala UI, Arianto T, hari Kamis (2/3).
Posko Mapala UI menerima berita itu dari Dubes RI di Cile dan Rudi Nurcahyo, anggota tim ekspedisi pendakian Aconcagua yang masih berada di Cile.Jenazah Didiek ditemukan terbujur di dalam kantong tidur di Refugio Independenzia, ketinggian 6.400 meter, tanggal 23 Maret 1992. Waktu itu, salju separuh sebagian tubuhnya dari bagian kaki dan sekitar mukanya.
Di dekatnya ditemukan kapak es dan termos air.Letnan Kolonel Juan Antonio Tora, Komandan SAR Argentina menjadwalkan tim evakuasi akan berangkat hari Minggu (5/4) dari Puente de Vacas. Diperkirakan tim tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) hari Senin (6/4), untuk aklimatisasi.
Hari Selasa (7/4) tim naik ke Nido Condores, bermalam di situ. Hari Rabu (8/4) tim menuju ke Refugio Berlin (6.000 meter). Baru hari Kamis (9/4), tim evakuasi menuju Refugio Independenzia (6.400 meter) mengambil jenazah untuk dibawa ke Refugio Berlin. Hari Jumat (10/4), jenazah baru diturunkan dari Berlin ke Plaza de Mulas. Hari Sabtu (11/4) jenazah tiba Plaza de Mulas dan langsung dibawa ke Puente del Inca.
Dari sana dengan mobil diangkut menuju poliklinik Uspalleta, 60 kilometer dari Plaza de Mulas, untuk pemeriksaan visum et repetum. Selanjutnya, jenazah di bawa ke Mendoza untuk dibalsem dan dimasukkan ke dalam peti.
Pencarian Norman
Menurut keterangan Letkol Juan Antonio Tora, sangat kecil kemungkinan Norman Edwin masih Hidup. Tim SAR yang dipimpinnya sudah menelusuri rute pendakian Puente de Vacas-Plaza Argentina-kaki Gletzer Polacos, yang jalur yang diperkirakan diambil Norman, tidak menemukan Norman.
Letkol Tora memperkirakan Norman Edwin terperosok ke dalam crevasse, celah-celah es, yang kedalamannya bisa mencapai 10 meter dan selalu berubah-ubah tempatnya. Celah-celah itu pada musim panas mudah terlihat, sedangkan di musim dingin atasnya tetutup salju.
Tim SAR sendiri belum menyelusuri daerah itu karena sangat berbahaya, tetapi berjanji akan meneruskan pencarian Norman apabila situasi mengizinkan.Kontak berita terakhir mengenai Norman dan Didiek, yang berangkat menuju puncak tanggal 12 Maret, dari pendaki negara lain yang berpapasan di Refugio Independenzia. Waktu itu, tanggal 19 Maret, Norman mendapat gangguan pada tangannya dan Didiek mengalami gangguan penglihatan.Seharusnya Norman dan Didiek sudah kembali ke Plaza de Mulas tanggal 20 Maret.
Karena sampai tanggal itu belum juga kembali, Carlos, pendaki lokal yang berpengalaman dan memiliki lisensi SAR, dengan beberapa kawannya menuju ke atas dan menemukan jenazah Didiek sudah terbujur kaku, tanggal 23 Maret.Pencarian Norman selanjutnya dilakukan oleh enam anggota SAR Argentina pimpiman Letkol Juan Antonio Taro.
Tetapi, tanggal 26 Maret karena badai dan di Plaza Argentina, lokasi sasaran SAR, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Norman, pencarian dihentikan sementara. Tim SAR Argentina Gendarmarie kemudian mengadakan koordinasi kembali yang juga dihadiri oleh Medy Ch. Djufrie, wakil dari KBRI Argentina.
Kalau memang pencarian Norman akan dilanjutkan, menurut perkiraan baru pada bulan November, karena musim mendaki memang antara awal November sampai 15 Maret. Saat itu juga sudah musim panas, jadi salju sudah mencair. (sur)
EVAKUASI TERHAMBAT, KOMPAS – Jumat, 10 Apr 1992
Usaha evakuasi jenazah Didiek Samsu dan Norman Edwin, dua pendaki anggota tim ekspedisi ke Puncak Aconcagua, Argentina, terhambat oleh tebalnya salju di lereng Aconcagua. “Tanggal 8 April (waktu Chile, Red) Tim SAR sudah sampai ke ketinggian 5.200 meter.
Ternyata di sana salju tebalnya mencapai 60 sampai 70 centimeter. Terpaksa turun lagi ke Plaza de Mulas,” kata Duta Besar Indonesia untuk Chile, dr Sukarno Hardjosudarno ketika dihubungi melalui telepon hari Kamis malam (9/4) waktu Jakarta atau siang hari waktu Chile.Tanggal 9 April, waktu Argentina, Tim SAR merencanakan kembali naik menuju Refugio Berlin (6.000 meter).
Seandainya cuaca baik, Tim SAR tiba di Berlin tanggal 10 April. Hari itu juga Tim SAR menuju ke lokasi jenazah Didiek Samsu di Refugio Independenzia (6.400 meter) untuk melakukan evakuasi jenazah Didiek Samsu dan Norman Edwin (di ketinggian 6.700 meter) dan segera kembali ke Berlin.Jika semua berjalan lancar, tanggal 11 April jenazah sudah tiba di Plaza de Mulas (4.230 meter) dan tanggal 12 April tiba di Puente del Inca untuk divisum di Uspallata.
Tetapi, “Ramalan cuaca hari ini (tanggal 9 April siang waktu Chile, Red) memperkirakan akan turun lagi hujan salju. Kalau benar berarti Tim SAR tidak bisa menuju lokasi,” kata Sukarno memperkirakan.Berarti dua pendaki Tim Ekspedisi Puncak Tujuh Benua Mapala UI itu, yang bisa dibilang pendaki terbaik Indonesia saat ini, sampai hari ini sudah 30 hari berada di kawasan Puncak Aconcagua.
Norman dan Didiek berangkat melakukan pendakian ulang tanggal 11 Maret 1992 bulan lalu. Tanggal 24 Maret Didiek Samsu ditemukan sudah meninggal di ketinggian 6.400 meter. Kemudian tanggal 2 April Norman Edwin ditemukan oleh rombongan pendaki asing lainnya sudah meninggal di lereng es dengan kemiringan 40 derajat di ketinggian 6.700 meter.
Badan Pengurus Mapala UI dan anggota Mapala UI lainnya, hari Sabtu (11/4), pukul 19.30, mengadakan doa tahlilan bagi kedua rekan mereka di Masjid Arif Rachman Hakim Kampus UI Salemba. (tom/sur)

About Unknown

Hi gaess. Perkenalin Author this blog, namanya Roziq, dari kota Tahu asalnya. Hobby ya seputar lingkup Outdoor. Blog ini kontentnya seputar travel, hiking yang mungkin authors pernah lakuin, atau juga mungkin Wonderful place yang ingin authors posting. so, enjoy it gaess

0 komentar:

Posting Komentar